Minggu, 27 Januari 2013

Raden Kian Santang

Aduh... Raden Kian Santang

Wow... wow.... wow... Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis unek-unek saya mengenai dunia film/ sinetron di Indonesia. Apalagi yang spesifik seperti judul di atas. Ya, ini mengenai sinetron kolosal (begitu memang saya menyebutnya tentang film-film yang bersetting waktu masa lampau) Raden Kian Santang yang ditayangkan di NMC TV yang sudak menginjak episode 200 lebih. Wow 200 episode tiap hari tayang apa tidak jenuh tu sutradara, penulis skenario, dan kru film lainnya. Sudah berjalan 7 bulan entah sampai kapan selesainya, apa menunggu 1 tahun (365 hari) atau 2 tahun?

Nah ini unek-unek saya mengenai sinetron di Indonesia khususnya sinetron Raden Kian Santang :
1. Waktu/ Timer
Ya, waktu saya tempatkan di urutan pertama. Waktu tayang sinetron kolosal Raden Kian Santang kurang lebih 1 jam secara keseluruhan (tayangan dan iklan komersial). Saya cermati tayangannya hanya 20 menit dan iklan 40 menit. Dengan rincian 5 menit tayangan dilanjutkan iklan 10 menit berualng sampai 4 kali (hitungan 4 x [5 + 10] = 60).
Itupun masih miris. Mengapa saya katakan begitu? Dari tayangan yang hanya 20 menit itu, masih dikurangi dengan tayangan yang menurut saya tidak perlu diputar/ ditayangkan. Misalkan saja :
• Awal tayang muncul tayangan episode sebelumnya.
• Sesaat sebelum iklan, muncul cuplikan tayangan selanjutnya (setelah iklan).
• Diperparah lagi setelah iklan, cuplikan tayangan sebelumnya (sebelum iklan) diputar ulang lagi.
• Setelah penghujung acara (acara 1 episode mau habis) di tayangan terakhir diputar cuplikan tayangan untuk episode selanjtnya.
Sehingga dari 20 menit masa tayang 1 episode sudah berkurang lagi dengan 4 hal yang saya sebutkan di atas sehingga 1 episode itu hanya menyisakan kira-kira 15 menit saja. Bayangkan dari 1 jam (60 menit) kta hanya menonton tayangan 1 episodenya hanya 15 menit dan yang 45 menit itu adalah iklan komersil dan cuplikan tayangan yang tidak terlalu penting.

2. Setting Tempat
Ada beberapa setting tempat “yang mungkin sama dan bahkan sama” yang mungkin juga tidak dihiraukan oleh penonton karena toh tidak bisa memberitahu sang sutradara. Kemungkinan besar karena keterbatasan lokasi syutting yang ada di sinetron kolosal Raden Kian Santang, di antaranya :
• Istana, karena diceritakan ada beberapa kerajaan yang ada di tanah Pasundan, seperti kerajaan Pajajaran, kerajaan Burangrang, dan lainnya, maka lokasi kerajaan “dipakai bersama” untuk syutting.
• Pelataran kampung/ persimpangan jalan, atau apalah namanya itu hehehehe... Di situ merupakan setting tempat beberapa padepokan yang hanya dirubah-rubah settingan dekorasinya maupun untuk tempat pertarungan. Lucunya di situ, bila setting waktunya di malam hari akan kelihatan lucunya. Mengapa? Perhatikan layar belakang, pasti kelihatan kain geber putih panjang tinggi. Terlihat batas atas kain putih dengan warna hitam karena gelapnya malam. Kelihatan sekali kalau tidak profesional. Apakah di balik kain itu rumah warga atau apa? Apakah dimaksudkan untuk memperlihatkan/ membuat efek kabut malam yang diterangi sinar rembulan?

3. Visual Efek
Ada beberapa visual efek yang bagus dan kurang bagus, di antaranya :
• Visual efek pada saat mengeluarkan ilmu tenaga dalam sudah OK.
• Visual efek pada saat menghilang juga keren.
• Visual efek ledakan dan kebakaran kurang OK (kurang menyatu dengan setting tempat yang ada), walau ada setting kebakaran sungguhan.
• Visual efek hewan tidak menyatu secara meyakinkan dengan setting tempat yang ada sehingga kelihatan “menggantung”.
• Visual efek background tempat kurang menyatu dengan pemain yang ada.

Selain itu, ada kerancuan secara umum mengenai film/ sinetron kolosal di dunia (baca: Cina) maupun di Indonesia. Namanya juga karangan manusia alias seni jadi tidak dipermasalahkan. Kerancuan itu di antaranya :
• Terbang, apakah benar, orang- orang terdahulu yang punya kesaktian bisa terbang?
• Ilmu tenaga dalam, mungkin bisa manusia mengeluarkan ilmu tenaga dalam.
• Menghilang, apakah manusia bisa menghilang seperti halnya di sinetron kolosal Raden Kian Santang?
• Berubah menjadi hewan, apakah bisa juga? Ini selain ilmu babi ngepet yang katanya manusia saat melakukan aksinya itu berubah menjadi babi.

Dan terakhir saya mengecek durasi waktu dari 1 jam penayangan sudah berganti dari 40 menit iklan dan 20 menit tayangan menjadi 20 menit iklan dan 40 menit tayang. Semoga tidak hanya waktu itu saja durasi tersebut diadakan namun sampai tamat (sampai kapan?) Sekian unek-unek saya mengenai sinetron kolosal Raden Kian Santang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar